Penjelasan ilmiah di balik meledaknya septic tank

Apakah Anda masih ingat kejadian septic tank meledak di Jakarta timur 2019 lalu, kronologi kejadian sopir truk tinja berinisial S (44) mengerjakan pesanan penyedotan WC di kawasan Cakung, Jakarta Timur. Setelah selesai, S mengambil Koran dan membakarnya, kemudian memasukkan Koran yang terbakar itu ke dalam septic tank. dia bermaksud, untuk menunjukkan hasil kerjanya bahwa septic tank sudah bersih dari tinja.

Namun tidak disangka septic tank meledak dan mengeluarkan suara yang keras, dinding atas septic tank jebol dan menimpa pekerja dan pemilik rumah hingga meninggal dunia.

Lalu bagaimana septic tank bisa meledak ketika disulut api ? Bagaimana penjelasan ilmiahnya ?

Penjelasan Ilmiah Di Balik Meledaknya Septic Tank
Penjelasan Ilmiah Di Balik Meledaknya Septic Tank
Terdapat gas metana di tinja

Coba sekarang Anda pikirkan dua pertanyaan berikut ini. Pertama, dalam sehari berapa kali Anda buang air besar (BAB) ? kedua berapa banyak tinja yang bisa Anda produksi dalam sekali BAB?

Menurut Encyclopedia Britanica manusia normal bisa BAB satu hingga dua kali dalam sehari. Dalam sekali buang air besar, manusia dapat mengeluarkan tinja seberat 100 hingga 250 gram. Tinja yang dikeluarkan manusia itu terdiri dari 30 persen sisa makanan yang tak dapat dicerna sisa makanan itu berupa selulosa, kolesterol, kalsium fosfat, hingga protein. Belum lagi bakteri yang turut terbuang dalam proses tersebut dan 70 persen air.

Hal yang menarik adalah, tinja yang dibuang ke septic tank itu tidaklah berdiam diri. Ada proses fermentasi yang terus dilakukan oleh bakteri anaerob (organisme yang dapat hidup tanpa oksigen). Peristiwa alamiah itu tentunya sulit disaksikan secara kasat mata.

Proses fermentasi itu kemudian menghasilkan apa yang disebut ilmuwan sebagai biogas. Yakni, gas yang dapat terbakar. Ini persis dengan gas elpiji yang dihasilkan dari perut bumi.

Menurut Polprasert (1985), yang dikutip Putut Sambang El-Haq dan Eddy Soedjono dalam Potensi Lumpur Tinja Manusia sebagai Penghasil Biogas, kandungan biogas itu terdiri dari gas metana, karbondioksida, nitrogen, hidrogen, serta hidrogen sulfida. Komposisi terbesar ditempati oleh metana yang kandungannya mencapai 55-65 persen. Kandungan metana inilah yang menyebabkan biogas memiliki sifat mudah terbakar.

Alasan tinja bisa meledak

Wermac.org mengulas tentang keamanan dan keselamatan kerja, menerangkan penjelasan terhadap ledakan metana. Mengutip dari situs tersebut sebuah ledakan dapat terjadi saat metana, oksigen dan percikan api bertemu dan terikat pada tingkat konsentrasi gas di udara. Dalam hal ini jika tingkat konsentrasi gas di udara berada di luar ambang batas aman.

Penjelasannya seperti ini tingkat konsentrasi gas untuk meledak didefinisikan sebagai limit ledakan. Sementara itu potensi bagi suatu gas untuk meledak akan ditentukan oleh dua hal. Yakni, batas atas ledakan yang dikenal sebagai Upper Explosive Limit (UEL) dan batas bawah The Lower Explosive Limit (LEL).

Secara teoritis, EL dan UEL diukur menurut persentase gas di udara berdasarkan volume. Pada konsentrasi di bawah LEL dan di atas UEL, suatu gas tidak akan meledak. Sebaliknya, ledakan dapat terjadi jika suatu gas berada pada konsentrasi di udara antara LEL dan UEL. Gas metana meledak saat berada pada ambang antara 5 persen LEL dan 15 persen UEL dari volume udara.

Tinja memiliki banyak manfaat

Meski tampak berbahaya karena bisa menyebabkan septic tank meledak, tinja memiliki manfaat yang luar biasa yang bisa di manfaatkan sebagai bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar fosil. Satu meter kubik biogas yang dihasilkan manusia dapat menyalakan lampu 60-100 Watt selama enam jam, atau setara dengan listrik sebesar 1,25 kWh.

Di Indonesia sendiri pemanfaatan terhadap manfaat tinja ini pun sudah dilakukan. Pada April 2018 lalu, mentri ESDM Ignasius Jonan, meresmikan instalasi biogas sekala komunal di pondok pesantren terpadu Al-Yasini di Desa Areng-areng, Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan Jawa Timur.

Instalasi biogas komunal ini dapat mengolah tinja untuk dijadikan biogas sebesar 24 meter kubik. Biogas sebanyak itu mampu menghasilkan gas sebanyak 81 meter kubik per bulan atau setara dengan 12 tabung LPG 3 kg perbulan. Selain untuk memasak biogas juga dapat digunakan untuk penerangan.

Untuk tahap permulaan pemanfaatan biogas komunal dapat mengurangi pemakaian LPG 3 kg perbulan sebanyak 5 hingga 12 tabung pada kondisi optimal. Sehingga dapat menghemat pengeluaran bulanan mulai dari Rp 65.000 hingga Rp 156.000.

Di Jakarta, pengelolaan tinja untuk menjadi energi alternatif juga telah dilakukan sejak 2018 lalu. Adalah Pemprov DKI Jakarta yang telah membangun IPLT (Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja), di Jalan Lingkar Luar, Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat.

Perangkat itu mampu mengubah limbah tinja menjadi air minum dalam waktu setengah jam. Tinja yang diperoleh berasal dari septic tank milik warga yang diangkut melalui truk.

Sementara itu, tahun 2002, pemerintah Singapura telah meresmikan air minum dari olahan limbah domestik rumah tangga, termasuk tinja, bernama NEWater. Saat itu, Perdana Menteri Singapura Goh Chok Tong meminum sebotol air kemasan hasil olahan limbah domestik selepas bermain tenis. Tindakan yang bertujuan meyakinkan masyarakat Singapura bahwa NEWater aman dikonsumsi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *