Malapetaka kesehatan mengintai dari pecahan asbes
Di Kota Jakarta, berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2022, jumlah bangunan tempat tinggal yang menggunakan atap berbahan asbes mencapai 52,10%. Angka ini menunjukkan bahwa lebih dari setengah rumah di Jakarta memilih menggunakan asbes sebagai atap. Pilihan ini seringkali didasarkan pada alasan ekonomi dan praktis.
Sudah sekitar lima tahun Nurhayati, seorang perempuan berusia 38 tahun, menggunakan asbes sebagai atap di dua kamar rumahnya. Warga Pedongkelan, Cengkareng, Jakarta Barat ini mengungkapkan bahwa penggunaan asbes sebagai atap cukup praktis dan hemat biaya. “Tidak banyak biaya ya ketika menggunakan atap asbes,” katanya kepada kami. Sebagai asisten rumah tangga, penghematan biaya adalah prioritas utama bagi Nurhayati.

Nurjanah, yang berusia 48 tahun dan tinggal tidak jauh dari rumah Nurhayati, telah menggunakan asbes untuk atap rumahnya selama 12 tahun. Seperti Nurhayati, alasan utama Nurjanah memilih asbes adalah karena faktor ekonomi. “Karena murah, harganya terjangkau,” ujar ibu rumah tangga tersebut.
Bahaya asbes memicu kanker paru – paru
Namun di balik kemudahan dan hemat biaya tersebut, penggunaan asbes menyimpan ancaman serius bagi kesehatan. Asbes merupakan serat mineral yang banyak digunakan dalam berbagai industri, termasuk konstruksi. Terdapat enam jenis asbes, yaitu asbes putih (chrysotile), asbes biru (crocidolite), asbes cokelat (amosite), aktinolit, anthophyllite, dan tremolit. Di antara jenis – jenis tersebut, asbes putih adalah yang paling umum digunakan sebagai atap bangunan.
Menurut laporan BPS tahun 2022, 52,10% bangunan tempat tinggal di Jakarta menggunakan atap berbahan asbes, diikuti oleh genting (37,21%) dan beton (5,03%). Meskipun populer, paparan debu asbes yang pecah dapat menimbulkan risiko kesehatan yang serius. Dokter spesialis paru – paru dari Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang, Ungky Agus Setiawan, menjelaskan bahwa penggunaan asbes bisa berdampak negatif pada kesehatan paru – paru. “Yang paling banyak kasus bisa menyebabkan mesotelioma atau kanker par – -paru,” ujarnya.
Ungky menjelaskan bahwa paparan serat asbes yang patah atau hancur akan terbang ke udara. Jika terhirup dan masuk ke saluran pernapasan, serat asbes akan terperangkap di paru – paru dan tidak dapat dihancurkan oleh sistem kekebalan tubuh. “Lama – lama akan mengendap dan menyebabkan proses inflamasi yang bisa berujung pada kanker,” tambahnya.
Paparan asbes membutuhkan waktu lama untuk menunjukkan dampaknya, biasanya antara 20 hingga 40 tahun. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa semua jenis asbes memiliki sifat karsinogenik. Namun, studi lebih lanjut masih diperlukan untuk menentukan jenis asbes mana yang paling berisiko menyebabkan kanker paru – paru.
Di Indonesia, sekitar 90% penggunaan asbes adalah jenis asbes putih. Meskipun Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Beracun Berbahaya (B3) mencantumkan asbes sebagai bahan berbahaya, penggunaannya masih diperbolehkan. Surya Ferdian, Direktur Local Initiative for Occupational Health and Safety Network (LION) Indonesia, menyatakan bahwa asbes memiliki material yang mirip dengan silika. Ketika terhirup, material ini dapat menyebabkan penyakit serius seperti asbestosis, mesotelioma, dan gangguan pleura.
Anas Ma’ruf, Direktur Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), mengakui bahwa Kemenkes belum melakukan riset khusus tentang dampak paparan asbes terhadap kesehatan. Namun, berdasarkan riset lembaga lain, Kemenkes mempertimbangkan kebijakan untuk mengurangi dampak kesehatan akibat pecahan asbes. “Kita tahu bahwa asbes merupakan bahan yang bisa menyebabkan kanker,” kata Anas.
Meskipun menyadari risiko kesehatan dari paparan asbes, pemerintah tidak bisa serta – merta melarang penggunaan asbes. Asbes tidak hanya digunakan dalam konstruksi, tetapi juga dalam industri lain seperti pembuatan kampas rem, pipa gas, dan kabel. Hal ini membuat pelarangan penggunaan asbes menjadi kewenangan kementerian lain.
Risiko penyakit akibat paparan asbes paling besar dialami oleh pekerja yang sering bersentuhan dengan asbes. Kepatuhan terhadap penggunaan alat pelindung diri (APD) yang rendah meningkatkan risiko paparan asbes. Gejala awal seperti bersin dan batuk bisa berkembang menjadi penyakit yang lebih serius jika paparan terus berlangsung. Sayangnya, banyak pasien yang datang ke rumah sakit sudah berada dalam stadium lanjut penyakit yang disebabkan oleh asbes.
Surya Ferdian dari LION Indonesia mengungkapkan bahwa organisasinya rajin melakukan advokasi terkait dampak paparan asbes terhadap pekerja. Pada tahun 2010, LION Indonesia melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap pekerja di industri manufaktur asbes di Cibinong, Bogor. Hasilnya, 15 dari 25 pekerja menunjukkan gangguan paru – paru yang terindikasi penyakit akibat asbes.
Kasus kematian akibat paparan asbes juga tinggi. Laporan WHO dan International Labour Organization (ILO) pada 2018 menyebut bahwa risiko kematian akibat paparan asbes mencapai 107.000 hingga 122.000 jiwa per tahun secara global. Sementara itu, laporan Global Asbestos Disaster (Mei 2018) mencatat sekitar 255.000 kematian per tahun akibat asbes di seluruh dunia. Di Indonesia, kematian terkait asbes diperkirakan mencapai 5.000 jiwa per tahun.
Kebutuhan dan solusi
Menurut INA-BAN, sejak 2021, sudah ada 67 negara yang melarang penggunaan asbes. Namun, kebutuhan asbes di Indonesia masih tinggi. Pada tahun 1980, impor asbes hanya sekitar 20 ton, tetapi jumlah ini meningkat signifikan dalam beberapa dekade berikutnya. Laporan BPS pada Juli 2023 mencatat bahwa berat impor barang dari batu, semen, asbes, atau mika ke Indonesia mencapai 230.790.829 kilogram dengan nilai impor 64.118.464 dolar AS.
Meskipun pemerintah sudah menyadari bahaya paparan asbes, regulasi untuk melarang atau menggunakan asbes secara aman belum sepenuhnya efektif. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor PER-03/MEN/1985 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pemakaian Asbes adalah salah satu regulasi yang ada, namun implementasinya masih kurang optimal.
Surya menambahkan bahwa asbes putih masih bisa diperdagangkan di Indonesia karena upaya memasukkan jenis asbes ini ke dalam daftar bahan yang memerlukan persetujuan informasi sebelumnya (prior information consent) selalu digagalkan oleh negara – negara pengekspor asbes. Pendukung penggunaan asbes sering menyebarkan informasi yang menyesatkan tentang bahaya asbes putih.
Masyarakat perlu diberi edukasi tentang risiko pemakaian asbes terhadap kesehatan. Selain itu, perlu ada regulasi yang jelas dari pemerintah dan bahan substitusi yang lebih aman untuk mengurangi penggunaan asbes. Pemeriksaan kesehatan secara rutin juga penting, terutama bagi mereka yang bekerja di industri terkait asbes.
Sebagai upaya perlindungan, rumah – rumah yang menggunakan atap asbes atau pabrik yang berhubungan dengan asbes harus memiliki ventilasi yang baik agar debu asbes tidak terhirup. Beberapa perusahaan telah mulai mengganti penggunaan asbes dengan serat lain yang lebih aman, seperti serat dari jagung atau bambu.
Untuk mengurangi risiko paparan asbes, pemerintah perlu meningkatkan bea masuk dan pajak impor asbes. Hingga kini, importir dan eksportir asbes menikmati bea masuk 0%. Di negara lain yang masih menggunakan asbes, seperti India atau China, bea masuk asbes dikenakan 10 sampai 15%.
Melindungi masyarakat dari bahaya asbes juga dapat dilakukan dengan melapisi permukaan asbes dengan tiga lapis cat untuk mengikat debu asbes yang mungkin terlepas. Langkah – langkah ini penting untuk melindungi kesehatan masyarakat dari dampak buruk paparan asbes.
