Musim banjir, jaga kesehatan dan waspada penyakit akibat banjir berikut
Ketika musim hujan tiba sering menyisakan kisah banjir bagi penduduk Indonesia di beberapa daerah langanan banjir, seperti di Jakarta, Bogor dan lainnya. Bencana ini juga tidak jarang mendatangkan penyakit yang disebabkan banjir. Masyarakat yang terkena dampak banjir sering harus berurusan dengan infeksi akibat kuman penyakit pada rendaman air hujan.

Selain itu, penyakit akibat banjir yang berhubungan dengan bersarangnya nyamuk juga tidak boleh disepelekan. Ketika banjir datang maka akan banyak sekali genangan air tempat ini lah yang disukai nyamuk untuk berkembang biak. Menurut World Health Organization (WHO), berikut adalah beberapa penyakit akibat banjir yang wajib menjadi perhatian saat musim hujan tiba:
- Demam tifoid (Tipes)
Demam tifoid atau tipes adalah infeksi yang disebabkan bakteri Salmonella typhi. Jika bakteri ini sempat masuk ke sistem tubuh, sifatnya akan berlipat ganda dan menyebar ke aliran darah. Gejala tipes antara lain demam yang berkepanjangan, lemah dan lelah, sakit kepala, mual, sakit perut, serta dan sembelit atau diare. Penyakit ini bisa mengancam keselamatan jiwa jika tidak mendapatkan penanganan medis yang tepat.
Penyebaran tipes bisa terjadi melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri Salmonella. Pada daerah yang sanitasi dan higienitasnya rendah, termasuk pada masa banjir, risiko tipes bisa meningkat. WHO juga pernah mencatat tipes sebagai wabah penyakit akibat banjir pada 1980 di Mauritius.
Untuk mencegah penyakit tipes, Anda disarankan untuk minum air bersih, menjaga sanitasi dan higienitas, serta mendapatkan vaksinasi yang tepat. Mencuci tangan juga sangat penting untuk menghindari dari penyakit tipes.
- Penyakit kulit
Ruam dan gatal – gatal adalah masalah kulit yang umum disebabkan oleh banjir. Disampaikan Dr. Regitta Indira, masalah kulit bisa muncul akibat kulit terinfeksi bakteri, parasit, dan virus. Dalam jangka waktu lama, kondisi tersebut bisa berkembang menjadi infeksi.
“Untuk mencegah infeksi kulit, gunakan sepatu boot ketika melakukan aktivitas di area banjir atau saat membersihkan rumah. Tak lupa, bersihkan tubuh dengan air dan sabun antiseptik agar terhindar dari penyakit,” tutur Dr. Regitta Indira.
- Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)
Banjir juga bisa meningkatkan risiko timbulnya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Penyebabnya tak lain adalah infeksi virus maupun bakteri akibat udara dingin dan lembap serta lingkungan yang kotor setelah dilanda banjir. Selain ISPA, korban banjir juga rentan mengalami flu.
- Kolera
Kolera adalah infeksi akut akibat bakteri Vibrio cholerae. Bakteri ini akan menyebabkan diare parah, yang berpotensi dehidrasi dan bahkan kematian dalam beberapa jam; jika tidak ditangani dengan tepat.
Transmisi penyakit kolera melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi. Jadi, daerah yang minim akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi akan sangat rentan terjangkit penyakit kolera. Terutama pada musim banjir, risiko transmisi penyakit ini sering meningkat, contohnya pada 1998 terjadi epidemi kolera di salah satu daerah di India Barat akibat banjir. Hampir serupa dengan tipes, penyakit kolera bisa dicegah dengan minum air bersih dan sanitasi yang memadai.
- Hepatitis A
Hepatitis A adalah penyakit menular yang menyebabkan infeksi pada organ hati oleh bakteri Hepatovirus A (HAV). Sebagai salah satu penyakit yang disebabkan oleh banjir, Hepatitis A bisa ditularkan karena makanan atau minuman yang terkontaminasi kotoran penderita atau kontak langsung.
Gejalanya antara lain demam, pegal – pegal, hilangnya selera makan, diare, mual, sakit perut, dan urine serta kulit dan mata tampak kekuningan. Supaya tidak terjangkit penyakit akibat banjir ini, pastikan sanitasi sudah memadai, menjaga kebersihan makanan dan minuman, serta mendapatkan vaksinasi.
- Malaria
Malaria adalah penyakit berbahaya yang disebabkan parasit Plasmodium. Parasit ini ditransmisikan melalui gigitan nyamuk betina Anopheles. Gejalanya antara lain demam, letih, muntah, dan sakit kepala. Pada beberapa kasus serius, malaria juga bisa menyebabkan penguningan kulit, kejang, koma, dan kematian.
Fenomena malaria sebagai penyakit akibat banjir sudah sering tercatat pada data WHO di beberapa bagian dunia. Resikonya bisa diminimalkan dengan memasang kelambu, pengusir nyamuk atau kontrol lain seperti insektisida, serta memastikan tidak ada genangan air.
- Demam berdarah dengue (DBD)
Genangan air banjir memudahkan nyamuk menemukan tempat berkembang biak. Hal ini bisa menyebabkan timbulnya penyakit demam berdarah dengue (DBD) dan chikungunya.
Baik demam berdarah dengue dan chikungunya sama – sama bisa menimbulkan gejala, berupa demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot dan tulang, hingga ruam kulit kemerahan.
Agar terhindar dari gigitan nyamuk, gunakan losion antinyamuk, serta kenakan pakaian berlengan dan bercelana panjang.
- Leptospirosis
Penyakit akibat banjir ini terjadi ketika air seni dan kotoran tikus masuk ke tubuh melalui luka, misalnya rendaman air hujan; tubuh menjadi demam, menggigil, dan sakit kepala. Untuk menghindari penyakit ini, pastikan Anda menghindari terkena air banjir terutama jika mereka yang memiliki luka terbuka. Gunakan alas kaki tinggi dan tebal, sekaligus untuk menghindari terkena paku atau benda tajam lainnya.
Menjaga kebersihan menjadi semakin penting saat musim hujan dan banjir. Selain sabun antibakteri di rumah, pastikan Anda membawa hand sanitizer saat keluar rumah. Selalu jaga kebersihan diri di mana pun sebagai upaya menerapkan gaya hidup sehat.
