Biopori dan sumur resapan solusi mengurangi banjir dan kelangkaan air jakarta

Jakarta sebagai ibu kota Negara menawarkan sejuta pesona dan daya tarik sehingga banyak orang dari berbagai daerah dari penjuru Indonesia yang mendatanginya. Hal tersebut yang membuat pembangunan infrastruktur berjalan pesat selama 15 tahun belakangan ini. Namun karena perencanaan tata Kota yang salah membuat Jakarta memiliki masalah serius setiap tahunnya yang pasti sudah Anda tahu yaitu banjir dan kelangkaan air serta penurunan permukaan tanah akibat air tanah yang diambil secara berlebihan. Curah hujan yang tidak terserap oleh tanah ditambah ketinggian permukaan tanah menurun membuat banjir makin parah saja. Lalu apakah ada cara mudah yang bisa dilakukan untuk menambah daya resap tanah di Jakarta ? tentunya ada yaitu dengan membuat sumur resapan dan membuat biopori teknologi biopori ini diperkenalkan oleh pakar lingkungan Bapak Kamil R Brata yang juga dosen Fakultas Pertanian IPB. Sumur resapan dan lubang resapan biopori menjadi salah satu trobosan terbaik karena cocok untuk diterapkan di Kota Jakarta, dapat dibuat berdampingan dengan jalannya proyek pembangunan perluasan urban open space. Sumur resapan dan biopori memerlukan dana sedikit untuk membuatnya, mudah untuk membuatnya, sangat efektif untuk menyerap air dan lubang resapan biopori dapat mengurangi sampah organik yang dibuang ke tempat pembuangan akhir TPA.

Biopori dan sumur resapan solusi mengurangi banjir yang terbaik yang bisa Anda lakukan secara mandiri di rumah masing – masing. Biopori dan sumur resapan juga bisa mengurangi kelangkaan air di Kota Jakarta karena dapat dipasanag pada permukiman padat penduduk dan tanah yang sudah terlanjur terlapisi semen atau beton. Pada permukiman padat penduduk atau perumahan biopori menjadi solusi karena tidak membutuhkan banyak lahan, untuk membuat satu lubang resapan biopori cuman membutuhkan lahan diameter kurang lebih 10 – 15 centimeter. Sedangkan untuk membuat sumur resapan membutuhkan area yang lebih luas yaitu berdiameter 80 centimeter sampai 1 meter. Selain itu lubang resapan biopori dan sumur resapan juga sangat cocok dibuat pada permukaan tanah di Jakarta yang telah tertutup bangunan.

Biopori Dan Sumur Resapan Solusi Mengurangi Banjir Dan Kelangkaan Air Jakarta
Biopori Dan Sumur Resapan Solusi Mengurangi Banjir Dan Kelangkaan Air Jakarta

Disisi lain, sekarang pemprov Jakarta sedang berusaha melakukan pencegahan banjir dan kelangkaan air dengan menambah luas ruang terbuka hijau. Namun, berdasarkan berita dari Kompas, 2012  “Saat ini Jakarta hanya mempunyai ruang terbuka hijau seluas 9,8 persen”. Sedangkan berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 tentang Tata Ruang disebutkan bahwa idealnya sebuah provinsi memiliki ruang terbuka hijau seluas 30  persen dari total wilayahnya. Namun, untuk menambah ruang terbuka hijau sesuai undang-undang terlihat akan memakan waktu yang lama dikarenakan keterbatasan ruang dan mahalnya harga pembebasan tanah. Dapat dibayangkan jika DKI Jakarta harus menambah ruang terbuka hijau sesuai undang-undang maka perlu pembebasan lahan hingga 200 kali luas monas.  Maka dari itu, selama perluasan ruang terbuka hijau berjalan untuk mengurangi banjir dan kelangkaan air dapat dibarengi dengan cara yang lebih mudah yaitu dengan membuat lubang resapan biopori dan sumur resapan.

Untuk membuat lubang biopori terbilang cukup murah karena hanya perlu bor ciptaan IPB dengan harga Rp 175.000 yang dapat dipesan melalui toko onlen selain itu bor tidak perlu dimilki oleh satu rumah karena pemakaian bor bisa bergantian. Idealnya satu RT harus memiliki tiga bor dan warga dapat meminjamnya secara bergantian. Sehingga keluarga dalam satu rumah hanya perlu mengeluarkan uang sedikit saja untuk memberi dana bersama untuk membeli bor biopori tersebut.Sedangkan untuk membuat sumur resapan juga hanya memerlukan cangkul untuk menggali sumur sedalam 1,5 meter dan pasir, semen serta batu bata atau koral untuk melapisi sisinya.

Pembuatan lubang resapan biopori mudah karena hanya perlu melubangi tanah menggunakan bor sedalam 80 centimeter sampai 1 meter dengan diameter 10 centimeter. Waktu yang diperlukan untuk membuat lubang biopori juga tidak terlalu lama, hanya sekitar 10 menit. Lalu agar lubang biopori bertahan lama bibir lubang bisa dilapisi dengan semen atau pipa dan untuk menghindari orang terperosok kedalamnya maka lubang dapat ditutupi dengan kawat jaring. Sentuhan akhirnya, hanya memasukan sampah organik kedalam lubang resapan biopori dan selanjutnya biarlah organisme ditanah yang bekerja. Sedangkan untuk membuat sumur resapan memerlukan tenaga lebih banyak dibandingkan membuat lubang resapan biopori namun membuatnya tidaklah terlalu sulit. Awalnya buatlah sumur resapan sedalam 1,5 – 2 meter dengan diameter 1 meter lalu lapisi sisinya dengan adukan semen, pasir dan koral. Lapisan bawah dapat diisi ijuk dan diatasnya dilapisi batu atau puing. Jika rumah memiliki talangan air makan sambungkan talangan air dengan pipa ke arah sumur resapan dan jika tidak ada talangan air maka perlu dibuat parit agar air mengalir ke sumur resapan.

Sumur resapan dan lubang resapan biopori sangat efektif menyerap air. Seperti yang tertulis dalam situs buatbioporimudah.com bahwa “suatu permukaan tanah berbentuk lingkaran dengan diameter 10 cm yang semula mempunyai bidang resapan 78,5 cm2 setelah dibuat lubang resapan biopori dengan kedalaman 100 cm, luas bidang resapannya menjadi 3.218 cm2”. Walaupun lubang resapan biopori ini terbilang kecil tapi bisa menyerap air dalam jumlah banyak karena pada sisi lubang resapan biopori terdapat lubang-lubang kecil yang dibuat oleh organisme tanah. Saat air masuk kedalam lubang resapan biopori maka air akan mengalir masuk kedalam lubang-lubang kecil yang dibuat oleh organisme tanah seperti cacing. Untuk sumur resapan berdasarkan berita dari tabloid Nova sumur resapan dapat membantu tanah menyerap air sebesar 20 sampai 30 persen.

lubang biopori

Khusus untuk lubang resapan biopori yang berisi sampah organik seperti daun-daunan, sisa makanan dan lainnya secara langsung dapat mengurangi tumpukan sampah di tempat pembuangan akhir. Seperti yang diberitakan waspada online, 2010 “total jumlah timbunan sampah DKI Jakarta terdata mencapai 6,7 ton perhari dengan komposisi bahan organik sekitar 55 persen”. Jika dilihat dari komposisi sampah penduduk DKI Jakarta sebanyak 55 persen adalah sampah organik berarti dengan memasukan sampah organik kedalam lubang resapan biopori sama dengan mengurangi banyaknya produksi sampah organik yang terbuang sia-sia dan mengurangi volume sampah di tempat pembuangan akhir. Dapat dibayangkan jika setiap rumah dan gedung perkantoran di DKI Jakarta memilki beberapa lubang resapan biopori maka sampah yang di pembuangan akhir akan banyak berkurang. Selain itu sampah organik yang seharusnya terbuang sia-sia dapat menjadi pupuk kompos yang dapat menyuburkan tanah ataupun bisa juga untuk dijual jika hasil pupuk komposnya banyak.

Sumur resapan dan biopori lubang resapan memang sangat berguna bagi wilayah yang sering dilanda bencana banjir dan kelangkaan air seperti Jakarta karena bisa menambah daya resap tanah dari air hujan dan air banjir yang berdampak pada mengatasi banjir, menambah jumlah air tanah, mencegah kelangkaan air dan mencegah turunnya permukaan tanah. Namun menurut berita yang dilansir JakartaNews, Kota Jakarta memerlukan sebanyak 70 juta lebih lubang resapan biopori untuk mengurangi banjir, maka dari itu sangat diperlukan bantuan pemerintah untuk melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat Jakarta agar membuat biopori dan sumur resapan dirumah masing – masing demi mengurangi bencana banjir dan mencegah kekeringan air. Tak cukup sampai disitu perlu juga kesadaran dari masing – masing orang untuk mau membuat sumur resapan dan biopori ini karena masalah banjir adalah masalah yang dirasakan banyak orang. Jika ibu Kota sukses dengan membuat 70 juta lubang resapan biopori dan sumur resapan solusi mengurangi banjir dan kelangkaan air Jakarta bukan tidak mungkin dapat berkurang secara bertahap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *