Kisah nelangsa pemulung TPST Bantargebang Bekasi dihantam pandemi covid-19
Meski pandemi Covid – 19 sudah lewat nampun dampaknya terhadap perekonomian masyarakat masih terus berlanjut. Salah satu yang paling terdampak yakni kaum pemulung yang kerap dihimpit kesulitan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari – hari.
Semenjak awal pandemi sampai sekarang, pendapatan para pemulung menurun drastis dari sebelumnya. Jaiman laki – laki usia 42 tahun misalnya, pemulung di TPST Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Bantargebang ini mengaku pendapatannya menurun hingga 50 persen akibat pandemi.
“Semenjak wabah virus corona ini pendapatan menurun jauh, nyari uang agak seret, susah. Sebelumnya Rp 100 ribu, sekarang cuma bisa dapat setengahnya,” katanya kepada awak media, Jumat (11/5/2022).
Pria asal Surabaya itu mengaku kesulitan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari – hari untuk istri dan ketiga anaknya. Kondisi tersebut memaksa keluarga pemulung ini hanya makan dengan lauk seadanya.

“Ya cukup enggak cukup, harus dicukupin. Sebenarnya mah enggak cukup, untungnya anak – anak itu makan sama lauk apa aja mau,” tuturnya.
Jaiman menjelaskan, sekarang ini bantuan sosial kepada pemulung sudah sangat jarang. Dirinya mengaku hanya menerima bantuan di saat awal – awal pandemi saja.
“Jarang ada bantuan. Cuma dulu aja, sekarang enggak ada lagi,” akunya.
Jaiman berharap nasib para pemulung mendapat perhatian lebih dari pemerintah maupun pihak lain, sehingga bisa mengurangi kesulitan hidup mereka.
“Maunya ada yang bantu kayak biasanya, buat makan sama sekolah, biar anak saya bisa terus sekolah,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua umum Ikatan Pemulung Indonesia (IPI), Prispolly Lengkong, saat ditemui di DPP IPI Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, menyampaikan kondisi para pemulung semakin memprihatinkan selama pandemi.
“Sangat memprihatinkan ya, karena berlakunya lockdown, PPKM. Barang yang ada di TPA ini kan sumbernya dari kota. Ketika dilockdown itu, masyarakat tidak produktif untuk konsumsi belanja, pengurangan di barang, harga tidak stabil,” paparnya.
Ribuan pemulung TPST bantargebang terdampak covid-19
Di tengah kondisi tersebut, kata dia, pemulung tidak bisa mendapatkan uang lebih meski mengambil banyak barang dalam sehari.
“Kan bosnya tidak mau mengambil resiko. Karena ketika dilockdown atau PPKM, pabrik-pabrik kan pada tutup. Kalau pabrik tutup, ya mereka bisa tiga empat bulan, atau mungkin setahun masih bisa makan. Tapi kalau pemulung, sehari ditutup aja bisa menjerit mereka,” jelasnya.
“Ada juga ketika awal pandemi, ada anggota IPI Karawang yang sampai tiga hari tidak makan. Kita langsung turun, pas lagi mengeluarkan sembako di Jabodetabek. Alhamdulillah tertolong,” ungkap Prispolly.
Menurutnya, ada sekitaran 6.000 pemulung di Bekasi yang terdampak pandemi, dengan rata-rata pendapatan menurun 25-30 persen. Bantuan pun sudah pernah datang dari pemerintah pusat, daerah, swasta, hingga sejumlah asosiasi.
“Dari Pemprov DKI melalui Dinas Lingkungan Hidup, kita mendapatkan bantuan kesejahteraan sosial di BPJS tenaga kerja. Ya Alhamdulillah sangat terbantu lah mereka,” akunya.
Lanjut Prispolly Lengkong, sejauh ini IPI Bekasi memiliki anggota sebanyak 6.000 orang yang terus bertambah setiap tahunnya. IPI mempunyai sumber dana mandiri yang berasal dari iuran ataupun sumbangan tetap anggota.
“Tetapi untuk iuran kayaknya kurang produktif untuk dijalankan karena pendapatan pemulung juga sangat minim ya. Kita adakan kas organisasi dari teman – teman pelapak, juga ada usaha kipkup yang kita salurkan supaya organisasi ini bisa berjalan,” jelasnya.
Prispolly menerangkan pihaknya beserta para anggota tidak pernah ikut dalam mobilisasi massa untuk kepentingan apapun. Hanya saja pihaknya sempat ingin berdemo terkait larangan penggunaan plastik oleh pemerintah pada tahun 2016 sampai tahun 2018 lalu, yang dinilai merugikan bagi pemulung.
“Alhamdulillah sekarang ini agak berkurang ya larangan plastik itu. Waktu kemarin kan benar – benar di musuhin untuk penggunaan plastik,” ujarnya.
Untuk bertanya mengenai artikel yang kami posting dan juga memberikan saran artikel apa yang selanjutnya bisa kami posting Anda bisa menuliskannya di kolom komentar di bawah.
