Banyak truk sedot wc buang tinja sembarangan Dinas LH DKI mereka: enggak mau bayar retribusi
Dinas Lingkungan Hidup Ibu Kota Jakarta membenarkan banyak oknum pengelola jasa sedot WC yang sering kali membuang tinja secara sembarangan.
Padahal limbah tinja yang mereka sedot dari rumah warga itu seharusnya dibuang ke tempat pengelolaan limbah yang dikelola Perumda Paljaya.
“Seharusnya mereka pengelola sedot WC, membuang tinja di instalasi pengelolaan air limbah domestik yang dikelola Pal yang ada di Jakarta Barat itu di Duri Kosambi dan di Jakarta Timur itu pulo Gebang,” komentar Kasubag Humas Dinas LH DKI JakartaYogi Ikhwan.
Yogi Ikhwan menuturkan, aksi truk sedot WC buang tinja sembarangan itu dilakukan karena para oknum tersebut enggak mau bayar retribusi yang harus dibayar di tempat instalasi limbah domestik.

“Yang benar itu mereka ke sana (tempat instalasi limbah) kemudian bayar retribusi. Nah, karena mereka enggak mau bayar, akhirnya mereka buang limbah sembarangan,” ujarnya.
Tak jarang, oknum-oknum yang membuang tinja secara ilegal itu justru dilakukan pihak-pihak yang punya izin operasi.
“Mereka enggak ilegal, mereka punya izin. Tapi, ada saja oknum enggak bertanggungjawab,” kata Yogi.
“Dia enggak mau bayar retribusi, enggak mau jauh kirim ke tempat pengelolaan limbah tinja, jadi dia buang sembarangan,” sambungnya.
Dikutip dari Wartakota, kasus pembuangan tinja secara ilegal di Jalan Ahmad Yani, Bypass Matraman, Jakarta Timur, Selasa (17/5/2022) lalu bikin geger.
Dalam aksinya, pembuangan tinja itu berlangsung begitu cepat dan tidak lebih dari sekitar tujuh menit.
“Kejadian sekira pukul 15.30 WIB, tidak sempat semua tinja di tangki yang dikeluarin, cuma sebentar tidak sampai tujuh menit, pas saya tegur gitu langsung cabut mereka,” ujarnya Dedi Junaedi (43) pemilik warung kopi sekaligus saksi mata.
Kejadian truk sedot WC buang tinja sembarangan terjadi pada sore hari saat kondisi cuaca di lokasi turun hujan deras, dan situasi jalanan juga sepi pengendara.
Terdapat hanya beberapa orang saja yang melintas, terlihat saat itu pengendara motor yang menggunakan jas hujan, dan lainnya didominasi dari kendaraan roda empat.
Mengingat kondisi cuaca sedang hujan deras yang dirasa dedi kerap menimbulkan aliran air selokan menjadi mampet, ia berinisiatif langsung melihat aliran got.
“Waktu hujan deras dan gerimis itu saya lagi cek di aliran got takutnya ada sampah mampet,” jelasnya.
Untuk melakukan pengecekan, dia harus terlebih dahulu turun ke bawah menuju selokan yang berjarak kurang lebih 6 meter di bawah warung kopinya.
Setelah sampai di selokan, ia melihat aliran got penuh dengan limbah tinja, lantas membuatnya menjadi bingung mengapa bisa dijumpai hal seperti ini di aliran got pemukiman warga.
Sesudah mengetahui terdapat hal yang janggal, lelaki paruh baya tersebut langsung menelisik sumber utama aliran tinja tersebut berasal.
“Itu aliran tinja tiba-tiba saya lihat kok ngalir di depan got, saya ikutin deh jalur alirannya itu ada dimana,” jelas Dedi.
Namun, sebelum ia berjalan menelisik sumber tinja tersebut berasal, Dedi terlebih dahulu mendokumentasikan dengan bentuk foto terkait aliran tinja tersebut di telepon genggam miliknya.
Langkah yang dilakukan Dedi dirasanya tepat, sebab bisa menjadi bukti untuk ia laporkan jika hal tersebut merupakan bentuk pelanggaran hukum.
“Sebelum itu saya foto dulu buat bukti kalo emang ada tinja,” pungkasnya.
Setelah selesai mendokumentasikan aliran air yang digenangi tinja tersebut, ia kemudian melanjutkan perjalanan menghampiri ke titik yang dirasanya saat itu suatu permasalahan.
Sesudah berjalan lebih kurang 25 meter dari warung kopi miliknya, ia akhirnya menemukan sumber aliran tinja tersebut yang ternyata berasal dari truk sedot WC berwarna kuning di pinggir jalan.
Tanpa berfikir panjang, Dedi mengungkapkan langsung lakukan tindakan berupa teguran ke petugas truk sedot WC buang tinja sembarangan tersebut, namun sempat mendapatkan perlawanan berupa penolakan keras dari mereka.
“Saya samperin ke orangnya, terus saya dimarahin dan dibilang ‘ngapain foto-foto’, terus saya lawan balik dengan omongan ‘elu yang ngapain buang tinja disini’ kata saya gitu,” katanya.
Adu mulut pun terjadi diungkapkan Dedi dengan petugas yang berlangsung sekira lebih kurang selama tiga menit.
Dedi mengungkapkan, sesudah kejadian adu mulut itu, petugas yang ditemui terdapat tiga orang, supir satu dan kernet dua langsung tancap gas pergi.
“Tidak lama langsung cabut mereka ke arah Tanjung Priok,” lugasnya.
Dedi kemudian berinisiatif melaporkan aksi tersebut ke grup WhatsApp Semangat Gotong Royong Kelurahan Utan Kayu Selatan yang beranggotakan warga sekitar.
Tak berlangsung lama, kurang lebih sekitar 15 menit setelah kejadian, petugas yang bersangkutan datang ke lokasi kejadian.
“Pamdal Pengamanan Dalam Camat dan Penanganan Sarana dan Prasarana Umum Langsung datang ke lokasi kurang lebih 15 menit setelah saya melapor ke grup wa,” kata Dedi.
Setelah kejadian itu selesai, dirinya berharap pemerintah bisa lebih memperhatikan hal yang serupa supaya untuk kedepannya tidak terulang kembali kejadian seperti buang tinja sembarangan ini.
“Pemerintah harus lebih memperhatikan hal seperti truk sedot WC buang tinja sembarangan itu juga, karena hal tersebut bisa merugikan masyarakat, kan itu aktivitas illegal istilahnya,” tutupnya.
