Belajar mengelola tinja dari negara tetangga

Di usianya yang sudah menjapai 477 tahun, Kota Jakarta masih saja kebingungan mengelola kotoran tinja warganya. Bayangkan saja, di kota yang memiliki jumlah penduduk lebih dari 10 juta jiwa ini, pengelolaan air limbah domestik belum dikelola dengan benar. Sebagian besar warga Jakarta masih membuang air limbah domestik dari kegiatan mencuci, mandi dan kakus yang biasa disebut dengan grey water begitu saja ke dalam saluran drainase yang seharusnya untuk air hujan.

Tidak hanya pengelolaan gray water saja yang buruk, pengelolaan tinja di DKI Jakarta juga masih memprihatinkan, terutama untuk kawasan pemukiman. Selain masih banyak ditemukan WC “helikopter” atau “kakus cemplung” warga juga masih banyak yang membuang air sembarangan di sungai. Di pemukiman padat masih jarang warga yang mempunyai septic tank seebagai tempat penampungan dan pengolahan tinjanya.

Sementara di permukiman yang sudah tertata, teknoligi yang digunakan untuk tempat penampungan dan mengelola tinja juga masih menggunakan septic tank konvensional. Cara kerja septic tank konvensional ini hanya memisahkan air dari tinja dengan menggunakan ijuk, kerikil, koral, dan pasir saja. Air yang sudah “tersaring” kemudian diresapkan ke dalam tanah.

Belajar Mengelola Tinja Dari Negara Tetangga
Belajar Mengelola Tinja Dari Negara Tetangga

Cara semacam ini berpotensi mencemari air tanah karena air yang diresapkan ke tanah masih mengandung tinja. Di Jakarta, rumah yang menggunakan teknologi septic tank ini hanya 39 persen dari jumlah yang ada.

Idealnya, untuk kota sebesar Jakarta, diperlukan sistem jaringan perpipaan (sewerage system) untuk mengelola air limbah domestiknya. Namun kenyataannya, jaringan perpipaan hanya melayani dua persen dari seluruh penduduk Jakarta, yakni di kawasan Setiabudi dan Tebet.

Akibat buruknya pengelolaan air limbah domestik, kualitas sungai dan air tanah di Jakarta semakin turun. Hampir 90 persen air tanah dangkal di DKI tercemar bakteri fecal coli dan bakteri coli yang bisa menyebabkan diare dan disentri parah pada manusia.

Kualitas air dari 13 sungai di DKI juga sudah tak sesuai lagi dengan baku mutu peruntukannya sebagai air minum, perikanan, pertanian, dan usaha perkotaan lainnya. Air sungai juga sudah tercemar bakteri fecal coli yang berasal dari tinja.

Air limbah domestik yang terus-terusan masuk ke sungai menyebabkan eutrofikasi (penyuburan berlebihan) pada air laut yang berujung dengan peristiwa blooming fitoplankton di Teluk Jakarta beberapa waktu silam. Ribuan ikan mati karena kehabisan oksigen yang banyak diserap fitoplankton.

“Ini baru awal dari bencana yang akan menimpa Jakarta. Kalau limbah domestik tidak dikelola dengan baik, bencana yang lebih dahsyat akan kembali terjadi,” kata Kepala BPLHD DKI Kosasih Wirahadikusuma.

Pemerintah Provinsi DKI berkali-kali menyatakan tekadnya untuk mengelola air limbah domestik. Namun, itu semata-mata sebatas jargon. Padahal di negara tetangga, Malaysia, sudah diterapkan teknologi sederhana untuk mengelola air limbah domestiknya. Salah satunya dengan memodifikasi septic tank. Untuk itu Jakarta harus belajar mengelola tinja dari negara tetangga.

Modifikasi septic tank (modified septic tank) tidak hanya berfungsi untuk mengolah black water saja, tetapi juga sekaligus mampu mengolah grey water dari kegiatan mandi, cuci, dan kakus (MCK). Prosesnya sederhana. Sebelum dibuang, tinja dan air limbah buangan MCK diuraikan lebih dulu oleh bakteri aerob dan anaerob. Hasilnya, air yang dibuang sudah jernih dan tidak mengandung bakteri fecal coli.

Teknologi modified septic tank ini diperkenalkan Pembinaan Jayabumi Sarawak (PJS) Berhad beberapa waktu lalu di Jakarta. PJS Berhad sudah sejak tahun 1992 memproduksi modified septic tank.

Menurut keterangan Azhar, sebagai Factory Manager PJS Berhad, selain jaringan perpipaan. Ada dua sistem pengolahan air limbah domestik yang diterapkan di Malaysia, yaitu pengolahan air limbah secara komunal (decentralized concept) dan pengolahan air limbah secara individual (individual on site treatment).

Teknologi sistem komunal diterapkan untuk kawasan dengan kepadatan penduduk kurang dari 100 orang per hektar. Sedangkan teknologi individual diterapkan untuk satu kawasan dengan kepadatan penduduk 100 sampai 300 orang per hektar.

Untuk membuat unit pengolahan air limbah, PJS Berhard melibatkan 52 kampung di Malaysia. Konsep inilah yang ingin ditiru Pemprov DKI Jakarta. Bahkan puluhan ibu – ibu PKK sudah dikirim untuk melakukan studi banding ke Malaysia untuk training pembuatan unit pengolahan limbah tersebut. PJS Berhad sudah membangun pilot project di Ciganjur dan Lenteng Agung. Untuk selanjutnya, tergantung Pemprov DKI mau menerapkannya di wilayah mana dahulu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *