Kotoran manusia dari toilet pesawat dibuang ke mana?
Apakah Anda pernah bertanya – tanya bagaimana proses pembuangan kotoran manusia di pesawat? Apakah langsung dibuang begitu saja di udara ketika pesawat sedang terbang atau disimpan terlebih dahulu kemudian setelah mendarat baru dibuang?
Menggunakan toilet ketika mengudara merupakan hal yang wajar, apalagi jika Anda sedang menempuh perjalanan yang membutuhkan waktu berjam – jam. Tentu Anda gak akan kuat jika harus menahan buang air terlalu lama sampai tiba di bandara. Karena itu toilet pesawat atau yang sering disebut “lavatory” didesain sedemikian rupa untuk menunjang kenyamanan penumpang ketika menggunakan toilet.
Proses pembuangan kotoran manusia di pesawat sekarang ini telah memakai sistem yang sudah memadai. Karena itu, pada pesawat modern kini tinja manusia tidak langsung dikeluarkan begitu saja di udara ketika sedang terbang.
Untuk mencegah bau yang menyebar dan supaya tidak merusak lingkungan udara, pesawat terbang masa kini dilengkapi dengan sistem pengolahan limbah yang disebut vacuum system.
Vacuum system adalah sistem yang kerap digunakan oleh pesawat modern. Misalnya saja pesawat boeing 737 – 800 yang digunakan masakapai Garuda Indonesia.
Mengutip Reader’s Digest, sistem tersebut mulai dikembangkan pada 1975 oleh James Kemper. Ia merancang toilet pesawat dengan kloset anti lengket, sejumlah kecil Skychem Chemicals (cairan desinfektan berwarna biru), serta penyedot vakum yang kuat.
Ketika seseorang membuang feses di toilet pesawat, kotoran manusia dari toilet pesawat tersebut akan dihisap dengan kekuatan vakum yang tinggi. Bahkan lebih cepat dari mobil balap Formula 1 loh, kotoran manusia beserta Skychem Chemicals yang berjumlah sedikit pun akan mengalir dengan kekuatan tinggi untuk menjaga sanitasi toilet.
Untuk mempermudah proses pengisapan tersebut, dinding kloset lavatory memang didesain secara khusus, dengan bahan yang terbuat dari teflon anti-lengket, dinding kloset pun akan lebih mudah dibersihkan.
Kemudian, feses tersebut akan disimpan pada waste tank atau penampung limbah. Waste tank tersebut biasanya berada di bagian bawah pesawat. Tepatnya, di belakang kargo yang jauh dari saluran bahan bakar, hidrologi, pneumatika, serta AC.
Kotoran di dalam tangki tersebut pun akan disedot ketika pesawat sudah mendarat. Terdapat katup khusus yang sudah disediakan sehingga limbah toilet hanya dapat dibuang ketika truk toilet terhubung ke pesawat.
Dengan demikian, tidak mungkin pilot dan kru dapat membuka katup limbah tersebut kecuali jika mesin telah dimatikan dan pesawat telah terparkir. Risiko kebocoran limbah toilet pesawat ketika berada di udara pun dapat dicegah.
Sementara itu, sempat heboh pemberitaan insiden jatuhnya limbah pesawat dari langit dari beberapa tempat di India pada 2016 lalu. Salah satunya terjadi kepada warga Delhi, Letnan Jenderal (purn) Satwant Singh Dahiya.
Selain itu, ada pula insiden jatuhnya limbah kotoran manusia dari pesawat menutupi seluruh taman milik anggota Karen Davis di Inggris pada Juli 2021 lalu.
Mengutip dari portal India Today, hal seperti ini bisa saja terjadi kepada pesawat yang umurnya sudah tua. Misalnya pada generasi pesawat yang telah berusia lebih dari 30 tahun. Hal itu disebabkan toilet masih memakai sistem listrik yang lebih mudah terjadi kebocoran.
Kebocoran tersebut bisa terjadi pada saluran pembuangan limbah yang tidak tersegel dengan baik ketika terbang. Limbah tersebut pun dapat membeku di udara dan kemudian jatuh ke tanah saat udara menjadi lebih hangat. Fenomena tersebut dikenal dengan istilah blue ice.
