Cara mengajarkan toilet training untuk anak

Anda bingung bagaimana memulai mengajarkan toilet training untuk anak? Coba kiat berikut ini.

Toilet training adalah bentuk pelatihan kepada anak agar dapat buang air besar (BAB) dan buang air kecil (BAK) pada tempatnya. Meski terkesan mudah, sebenarnya tidaklah demikian.

Dalam menerapkan cara melatih anak toilet training, diperlukan proses dan kesabaran dari orang tua atau pengasuh. Sebab proses pembelajaran toilet training berbeda antara satu anak dengan yang lainnya. Ada anak yang siap lebih cepat, ada pula anak yang siap lebih lambat.

Cara Mengajarkan Toilet Training Untuk Anak
Cara Mengajarkan Toilet Training Untuk Anak

Apa pun alasannya, orang tua tidak perlu membandingkan anak dengan anak lainnya atau saudaranya. Berikut cara mengajarkan toilet training pada anak yang bisa Anda coba:

  1. Perhatikan waktunya

Pelatihan menggunakan toilet hanya akan berhasil jika dan ketika anak sudah siap.

Menurut BabyCentre, kebanyakan balita belajar keterampilan yang dibutuhkan untuk toilet training antara 18 bulan dan tiga tahun.

Ingatlah kalau setiap anak memiliki keterampilan yang berbeda-beda, bisa saja si Kecil dapat melakukannya lebih cepat bahkan lebih lambat dari waktu yang ditentukan.

Anak laki-laki umumnya membutuhkan waktu lebih lama untuk menguasai keterampilan ini dibandingkan anak perempuan.

Jadi jangan terburu-buru saat mengenalkan anak Anda menggunakan toilet sebelum dia benar-benar sudah siap, dan jangan bandingkan dia dengan anak seusianya apalagi kalau membandingkannya dengan anak perempuan.

Jika anak menunjukkan tanda-tanda berikut, berarti dia secara fisik siap dilatih dalam melakukan toilet training:

  • Menunjukkan ketertarikan untuk menggunakan toilet.
  • Saat popok kering sebaiknya selalu menggantinya selama dua jam sekali dan saat si Kecil poop harus langsung di bersihkan.
  • Ia mulai bisa menarik celananya ke atas dan ke bawah sendiri.
  • Selalu meminta Anda mengantarnya ke toilet setiap kali ingin buang air.

Jika dia masih menunjukkan banyak perlawanan saat ke kamar mandi, atau mengalami lebih banyak kegagalan daripada kesuksesan hingga seminggu saat melakukan pelatihan toilet, mungkin dia masih belum siap. Dalam hal ini, beri waktu istirahat dan coba lagi setelah beberapa minggu.

  1. Rencanakan dengan benar sebelum dimulai

Ketika Anda ingin mengenalkan si Kecil toilet training, Anda harus menyiapkan beberapa perencanaan. Biarkan dia melihat orang tuannya ketika menggunakan toilet.

Katakan padanya bahwa kalau setiap ingin buang air, kita harus ke kamar mandi dan menggunakan toilet.

Bacalah bersama si Kecil buku cerita yang menjelaskan latihan toilet, dan bagaimana cara melakukannya. Pirate Pete’s Potty, The Prince and the Potty, dan Dinosaurs Love Underpants adalah buku yang dapat Anda miliki untuk mengajarkan toilet training.

Rencana lainnya, Anda dapat mengajak anak laki-laki, membeli baby potty toilet dengan warna-warna yang menggemaskan. Selain itu, Anda juga dapat mengajaknya membeli celana superhero, bebaskan dia untuk memilih karakter yang sesuai dengan keinginannya.

kebanyakan anak laki-laki nggak suka pahlawan super kesukaannya basah atau kotor, jadi ini menjadi dorongan paling ampuh agar si Kecil tidak buang air di celananya lagi.

Pastikan punya banyak celana, yang mudah ditarik ke bawah dan dipasang kembali oleh si Kecil.

Hindari celana dengan kancing, ikat pinggang, dan dungarees saat toilet training.

  1. Berdiri atau duduk saat buang air kecil

Memiliki anak laki-laki, berarti harus bisa mengarahkannya bagaimana ia buang air kecil.

Sebelum mulai, biarkan anak menguasai dasar-dasar toilet training terlebih dahulu, kemudian fokuskan untuk mengajarinya berdiri dan buang air kecil.

Pada awalnya, belajar untuk mendengarkan tubuhnya dan bisa menggunakan toilet secara mandiri lebih penting dari pada teknik.

Saat anak menunjukkan ketertarikan buang air kecil dengan berdiri, tunjukkan bagaimana caranya.

Pada tahap ini, memerlukan bantuan dari laki-laki seperti kakak atau ayah. Balita belajar dengan meniru, jadi sebaiknya dilakukan dengan bantuan dari laki-laki juga.

Untuk menyempurnakan tujuannya, lempar beberapa Cheerios atau Fruit Loops (atau sereal berbentuk lingkaran) di toilet.

Ini adalah cara yang bisa dicoba dan pastinya menyenangkan bagi anak laki-laki untuk mendapatkan ‘latihan target’.

Jika Anda  ingin menambahkan unsur menyenangkan lainnya, Anda dapat menggunakan bola pingpong, dan berlomba-lomba untuk memasukkannya ke dalam toilet.

Setelah toilet training, jangan lupa mengangkat kembali bola tersebut ya, agar toilet tidak mampet.

  1. Jadikan kegiatan mengajarkan toilet training yang menyenangkan

Toilet training adalah langkah maju yang besar bagi balita, dan bisa sedikit menakutkan, jadikan kegiatan ini lebih menyenangkan.

Saat si Kecil mulai ingin menggunakan toilet untuk buang air kecil, pujilah dia setiap kali dia menggunakan toilet.

Tak perlu mainan mahal, Anda dapat membuat stiker dengan tulisan Good Job atau You Win ketika ia bisa buang di toilet.

Mintalah ia untuk mengumpulkan stiker tersebut setiap kali berhasil ke toilet. Setelah stiker terkumpul sekitar 10 buah, berikan dia hadiah istimewa, seperti puding atau buah kesukaannya.

Mengajarkan toilet training pada anak laki-laki kecil memiliki rentang perhatian yang sangat pendek, dan cepat bosan.

Tetap buat ia merasa terhibur saat di toilet, setidaknya di tahap awal. Baca buku (buatlah buku khusus, yang bisa dibaca saat duduk di toilet); bercerita; menghitung; menyanyikan lagu – apapun caranya buatlah duduk di toilet adalah hal yang menyenangkan baginya.

  1. Konsisten

Jangan gunakan pendekatan start-and-stop. Bukan berarti ketika ia baru bisa menggunakan toilet, lantas Anda tidak lagi memberikannya popok sekali pakai.

Ini akan membingungkan anak laki-laki dalam belajar mengerti kebiasaan barunya.

Anda harus pelan-pelan melepaskan popok sekali pakai, ketika ia benar-benar sudah terbiasa menggunakan toilet untuk buang air.

  1. Siap berurusan dengan latihan lepas popok pada malam hari

Beberapa anak laki-laki belajar buang air kecil di toilet dengan cukup cepat, tapi takut ketika ke toilet pada malam hari.

Pahami masalahnya dan bantulah anak mengatasi rasa takutnya. Jangan memaksa atau berteriak padanya, Anda harus tetap menemaninya hingga ia mulai berani ke toilet pada malam hari.

Anak-anak membutuhkan waktu lebih lama untuk bisa ke toilet pada malam hari, jadi jangan sekali-kali tidak memakaikannya popok sebelum tidur.

Pertimbangkan latihan pada malam hari jika ia benar-benar kering dan bersih pada di siang hari.

Dia sering bangun dengan popok kering pada pagi hari. Ingatlah untuk membatasi asupan cairannya sebelum tidur. Nyalakan lampu tidur di kamarnya, supaya dia bisa pergi ke toilet di tengah malam.

  1. Siap hadapi kegagalan

Pelatihan yang rumit melibatkan banyak kegagalan dan membuat cucian pakaian dalam lebih banyak pastinya.

Berikut tip praktis yang cukup membantu; menyimpan satu ember dengan larutan cairan desinfektan dan sa cairan pencuci pakaian.

Dengan cara ini Anda bisa membersihkan kotoran dan merendam pakaian kotor sekaligus.

Ternyata mengajarkan toilet training nggak sesulit yang dibayangkan.

Banyak hal yang menyenangkan terkait toilet training. Semakin banyak dilatih, si Kecil semakin cepat belajar untuk menggunakan toilet saat buang air kecil.

Dukungan dan kesabaran adalah kunci kesuksesan Anak untuk bisa lulus melakukan toilet training.

Nah, kini Anda telah mengetahui cara mengajarkan toilet training pada anak. Jika anak belum mau dilatih, jangan dipaksakan karena hal tersebut akan berujung stres bagi Anda dan anak. Tujuan toilet training pun malah tidak tercapai. Selamat mencoba!

Untuk membaca informasi dan artikel seputar sanitasi dan lainnya, Anda dapat membaca pada website kami ini !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *